Atas Nama HAM dan Modernisasi, Izinkan Kami Telanjang!

Posted on 3 September 2009


Wanita binal yang di dalam dunia modern sering disebut “loosed women”, menitik beratkan pada kepuasan dan kebebasan hidup dengan tidak lagi mengindahkan norma agama maupun masyarakat. Dalam pandangan mereka keindahan tubuhnya adalah anugrah yang tidak ahrus disembunnyikan. Lekuk-lekuk tubuh yang di dunia modern disebut “artistik” sengaja ditonjolkan lewat baju ketat atau sama sekali tidak dibungkus pakaian. Wittels dalam bukunya “Structure des Criminellen Psychopaten” menyebutkan wanita tersebut sebagai wanita imoral atau yang tidak tahu malu. Itulah dunia artis. Setuju atau tidak, artis memang umumnya layak mendapat sebutan “loosed woman” mereka binal dan cenderung imoral.

Fenomena “loosed woman” itu sendiri adalah fenomena yang tidak dipisahkan dari dunia modern. Ketika manusia dihadapkan pada kebutuhan hidup sementara lahan usaha semakin sulit, maka orang akan cendrung berpikir praktis untuk mendapatkan uang. Jalan termudah adalah bagaimana menjual harga diri untuk disuguhkan pada khalayak dengan tidak lagi mengindahkan norma-norma agama. Untuk legalisasi perilakunya, mereka berlindung di balik “hak asasi, kemerdekaan bertindak, reformasi, privacy” dan sebutan lain yang hakekatnya hanya kedok dari kebobrokan perilakunya.

Tak heran jika remaja putri antri ingin di photo telanjang di tabloid-tabloid bahkan menurut sebagian mereka, tidak dibayar pun tidak menjadi masalah karena itulah jalan paling mudah untuk terkenal atau diperhatikan oleh sutradara, produser atau pengorbit artis. Maka menjamurlah tabloid-tabloid dan klip-klip lagu dengan latar belakang gadis telanjang (atau setengah telanjang) menjajakan tubuhnya di tengah-tengah generasinya yang lagi kebingungan menentukan identitas diri. Ketika ditanya atau aktivitas mereka diusik, alasannya sangat klasik” ini hak asasi saya, ini seni, ini suka-suka gue, dll.”

Akhirnya setiap hari kita kebanjiran tontonan super erotis. Berbagai tayangan filem, sinetron, telenovela, iklan, talk show, dan klip lagu sarat dengan muatan pornografi. Aurat sudah sangat murah. Harga diri kehilangan mahkota. Badan Sensor Filem (BSF) hanya tinggal nama. Para aktivs moral sudah kehilangan tenaga untuk demo. Sebaliknya, katabuan menjadi barang yang mahal. Rasa malu sudah sangat langka. Celakanya , bagi artis (wanita binal), buka-bukaan adalah seni bukan porno. Maka demi seni, atas nama modernisasi dan HAM “izinkan kami telanjang”.

Sementara itu ditengah derasnya arus tayangan porno, pendidikan agama justru semakin tersisihkan. Para remaja kita tidak lagi gigih memperjuangkan kebenaran. Sebut saja misalnya Bilqis, Ratu Saba, wanita mulia yang telah rela bertobat dan taat pada suaminya. Khulah binti Tsa’labah, istri yang taat beribadah dan taat pada suaminya. Siti Khadijah, Istri pertama Rasulullah Saw yang rela berkorban dengan jiwa dan seluruh hartanya demi Islam. Aisyah istri Rasul tercinta yang taat, cerdas, teguh memelihara kehormatan dan gigih membela kebenaran. Asiyah , istri Fir’aun wanita yang berjuang menegakkan kebenaran di tengah-tengah lautan kemunkaran. Dan pahlawan-pahlawan wanita lainya yang dengangigih membela kebenaran bersama para pahlawan lainnya seperti Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi dan lain-lain.

Sayangnya, yang ada di benak remaja kini adalah Madonna (bom seks Holywood), Britney Spears, Sopia Latcuba, Jihan fahira, Meriam Belina, Paramitha Rusady, dan sederet wanita binal lainnya yang sering mengumbar aurat. Atau tokoh-tokoh fiktif seperti Rambo, Superman, Batman, dll menjadi idola yang tanpa batas. Tak heran jika perilaku remaja masa kini mengikuti pola para selebritis tersebut hidup semau gue dan malas berusaha. Terlebih lagi jika dihadapkan pada perjuangan menegakkan kebenaran akan sangat sulit mengingat hati mereka kahilangan ghirah jihad.

Era Pemujaan Tubuh

Akibat gencarnya tayangan yang menggambarkan pentingnya sebuah penampilan menarik, maka munculah bentuk pemujaan terhadap tubuh. Televisi terus menerus mempropagandakan bahwa makna hidup sesungguhnya ada pada penampilan menarik. Tubuh berubah menjadi penguasa yang bisa mengalahkan segala kepentingan lainnya.

Bagi wanita modern, zaman media adalah perangkap keindahan yang menggiurkan. Penampilan wajahnya harus anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing dan memiliki daya pikat seksual, pakainnya mutakhir. Wanita tidak boleh buruk nafas, bejerawat, apalagi bau badannya. Media terus menerus menanamkan pandangan hidup dengan tubuh sebagai pusat kesadaran.

Guna menopang pemuajaan tubuh, dibuatlah berbagai produk pemoles tubuh mulai dari bedak, masker, lotion, pencuci wajah, lipstik, pil anti jerawat, peramping pinggang, minyak wangi, berbagi model pakaian, dan lain-lain. Bahkan kini diciptakan mesin khusus untuk mengencangkan payudara dan wajah. Tekhnologi pun semakin canggih dengan menciptakan mesin bedah plastik guna merubah penampilan wajah menjadi oke. Lebih radikal lagi, bagi seorang yang tidak puas dengan jenis kelaminnya bisa ditukarkan dengan jenis kelamin lainnya (transeksual).

Herannya, produk-produk itu bukan sekedar produk biasa, tapi juga membawa kasan-kesan tersendiri. Iklan-iklan pun semakin menanamkan kesan-kesan sepert itu Misalnya, jika memakai bedak ‘A’, sesorang dikesankan sebgai remaja gaul, modern dan akan dikejar-kejar laki-laki. Lipstik ‘B’ yang dalam iklan memakai model seorang ratu dunia (miss Universe), dikesankan sebagai gaya hidup selebritis dunia, memakai produk ini berarti mengikuti jejak sang ratu tersebut. Minyak wangi ‘C’ mengesankan gaya hidup mewah dengan model iklan yang sering melanglang buana ke berbagai negara (setting iklna sengaja diatas pesawat udara dan bandara). Saking hebatnya kesan-kesan yang diciptakan oleh media, hingga masalah harga tinggi pun sudah tidak diperhitungkan, sekalipun produk tersebut sebenarnya tidak terlalu istimewa bahkan mungkin sama dengan produk emperan.

Era modern juga selalu menggembar-gomborkan pentingnya penampilan tubuh langsing, sintal dan sehat. Artinya tidak cukup dengan pakaian dan produk-produk pemoles tubuh, tetapi juga diperlukan suatu kebugaran. Maka maraklah senam pagi massal, aerobik, pusat-pusat kebugaran, fitnes center, body building, dan senam-senam lainnya yang kini lagi trend. Televisi, tabloid dan majalah saban hari mengiklankan produk-produk berteknologi canggih utnk melangsingkan tubuh menghilangkan jerawat, mengancurkan lemak dan alat-alat kebugaran lainnya. Bahkan setiap pagi sebuah stasiun televisi swasta selalu menayangkan senam pagi .

Sehat dan bugar tidak dilarang bahkan dalam Islam justru sangat dianjurkan, namun jika bugar hanya untuk pamer autar atau sekedar ingin dilihat seksi oleh orang lain masalahnya menjadi lain. Terlebih lagi pusat-pusat kebugaran kini bukan hanya tempat kebugaran belaka tapi menjadi sarana efektif transaksi seks antar para selebritis dan kaum berada.

Budaya pemujaan tubuh ini mehirkan remaja-remaja yang doyan pamer aurat. Di jalan-jalan remaja kita sudah tidak lagi risih denan pakaian ketat dan nyaris terbuka atau rok mini dengan kaos you can see serta jeans bolong dan ketat, dandanan wajah dan potongan rambut yang tidak karuan. Lebih mengkhawatirkan lagi dari semua itu, yaitu budaya hidup bersama (free sex) yang tercermin dari bebasnya mereka bergaul dan bergerombol dengan lawan jenis.

Sementara itu , remaja putri Islam saat ini tak lebih dari korban keganasan modern. Merela terimbas dengan mode pakaian yang lahir dari budaya non Islam. Akibatnya muncul kesan bahwa yang baik dan benar adalah apa yang datang dari Barat. Tak heran jika merebaknya penyimpangan-penyimpangan syari’ah yang marak terjadi akhir-akhir seperti fenomena jilbab/kudung gaul sulit ditanggulangi, karena remaja kita sudah terlanjur terbelenggu iming-iming ’gaya hidup selebritis’ yang dipropagandakan para selebritis dari dunia entartainment (hiburan).

Nabi itu Bernama Artis

Benar yang dikhawatirkan oleh Bryan S. Tuner, Guru besar pada Universitas Flinders, Australia ketika ia mengomentari gagasan pasca modernisme Akbar S. Ahmed bahwa ancaman terhadap Islam bukan datang dari warisan Paulus, melainkan dari warisan Madonna. “Pengikisan diam-diam terhadap ‘narasi besar moralitas’ mungkin akan lebih serius terjadi lewat teve komersial, MTV. Video, headset, dan globalisasi cat walk” Demikian turner berpendapat.

Demikianlah adanya. Dunia modern tengah mengalami ancaman degradasi moral secara global. Generasi muda yang tak terbatas pada generasi Islam saja tengah dihadapkan pada penghancuran moral besar-besaran. Mereka memuja para artis dengan tidak mengindahkan sisi moral artis tersebut. Dunia modern telah mendesain sedemikian rupa agar para artis tersebut digunakan untuk model iklan tertentu. Secara otomatis iklan yang dibintangi artis tersebut akan laris di pasaran dan mejadi trend dikalangan remaja.

Artis dizaman modern telah berubah menjadi nabi baru. Segala ucap dan gerak langkah mereka menjadi panutan. Simak bagaimana enaknya masyarakat menirukan cara artis berpakaian. Tak jarang mereka berbuat seperti halnya artis saat berakting. Baik itu cara bicaranya, cara berjalannya bahkan cara dia mencaci, menfitnah, berkelahi, berhubungan badan dan sebagainya.

Kita bisa melihat begitu hebatnya pengaruh para artis di kalangan generasi muda. Sehingga tatkala seorang artis mencanegara datang ke Indonesia, mereka rela antri berjam-jam hanya untuk membeli tiket dan berdesak-desakan hanya untuk melihat artis pujaannya itu. Bahkan tak jarang mereka menangis histeris tatkala artis yang dipujanya itu telah terlihat dengan mata kepala sendiri. Sebagian mereka berlari sambil berteriak mengejar artis idolanya itu bahkan sebagian dari mereka berjatuhan, pingsan bahkan mati. Apa sebanarnya yang mereka cari? Hanya kepuaasan semu belaka. Secara akal sehat, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian materi, waktu dan tenaga. Tak lebih!

Dunia artis adalah dunia glamor. Disanalah berpusat kebobrokan moral. Mulai dari penyalah gunaan obat terlarang, minuman keras, seks bebas dan penyelewengan terhadap berbagai norma agama lainnya. Sebagai sosok glamor, artis memang bisa berbuat apa saja dengan limpahan, bahkan jika perlu hukum pun bisa dibeli. Maka bagaimana jadinya jika berbagai penyimpangan perilaku seperti kejahatan seks dan penyalah gunaan obat terlarang merajalela karena memang remaja kita berguru pada ‘nabi baru’ tersebut.

Dari meltimedia hingga Multikejahatan

Disisi lain, nyaris tidak ada satu media pun yang bisa menjadi pembanding dari semua itu. Tida ada media (khusunya TV) yang secara khusus memberikan cerita tauladan yang baik dan benar untuk remaja. Yang ada justru kian hari dunia artis makin digembar-gemborkan dan remaja kita pun makin dininabobokan.

Kita sadar, informasi yang merajai dunia saat ini dikuasai non Islam sehingga umat Islam teramat sulit memberikan filter atau saringan terhadap media-media perusak yang seharianya hanya memepropagandakan dunia selebritis. Dengan menu-menu VHS ( violence, horor and sexs) kekerasan, horor dan seks.

Media-media tersebut selama ini sudah disadari sebagai sumber berbagai informasi kejahatan. Seorang anak belajar membunuh dari film atau video game yang kini menjamur dimana-mana. Anak-anak muda belajar hubungan bebas (free sex) dari VCD porno yang begitu mudah didapat di hampir setiap sudut negeri ini. Anak-anak dan remaja pun kini punya guru baru dalam perilaku dan sopan santun kesehariannya kepada orang tua dan lingkungan pergaulannya sehari-hari.

Media-media itu telah masuk keberbagai lapisan masyarakat hingga kepengunungan sekalipun. Sehingga ere sekarang tidak ada istilah remaja kampung atau remaja kota karena kedunay secara ersamaan telah dididik oleh media yang serupa di setiap waktu. Tak heran jika berbagai tindak kehajahatan tersebut mereta di seluruh pelosok wilayah Indonesia dan tampaknya akan sulit ditanggulangi jika sumbernya sendiri tidak diberangus terlebih dahulu.

(Berbagai Sumber)

About these ads
Posted in: Ragam Berita