Langkah-langkah Cerdas Dalam Berdakwah

Posted on 13 Februari 2010


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Qs An Nahl: 125)

Ayat ini berisi panduan khusus mengenal bagaimana berdakwah yang cerdas. Sekalipun berdakwah kepada Allah merupakan amal shalih, tetapi seorang aktivitas dakwah dalam mengerjakan tugasnya tidak boleh asal-asalan. Sekedar bermodalkan keyakinan bahwa Allah pasti menolongnya. Tidak, tidak demikian seharusnya sorang aktivis dakwah. Aktivis dakwah harus cerdas dalam menjalankan tuganya. Sebab, kerja dakwah bukan pekerjaan biasa. Ia pekerjaan yang sangat mulia, menuntut perhatian khusus dan cara penyampaian yang kreatif. Jika tidak, dakwah akan berjalan di tempat. Namanya saja dakwah, sementara pengaruhnya sangat tumpul.

Benra, berdakwah kepada Allah merupakan perkerjaan yang sangat mulia. Sebab, yang memerintahkannya adalah Allah yang Maha Agung. Perhatikan kata ud’u ilaa sabili rabbika (serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-MU), ini menunjukkan bahwa tugas dakwah datang dari Allah Zswt, sebagai bukti pentingnya tugas tersebut Rasulullah Saw yang menerima tugas ini telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Seluruh hidupnya bila kita pelajari secara mendalam, tidak lebih dari cerminan dakwah kepada Allah. Setelah Rasulullah wafat tugas ini secara otomatis dioper alih kepada umatnya. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs Ali Imran: 110)

Tidak bisa dipungkiri bahwa berdakwah di jalan Allah pasti akan berhadapan dengan tantangan yang sangat berat. Renungkan kata ilaa sabili rabbika disini anda akan mendapatkan kesan bahwa tugas utama manusia sebenarnya adalah mengikuti jalan Allah. Tetapi karena setan bekerja keras untuk membuat manusia tergelincir, akhirnya banyak dari manusia yang keluar dari jalana Allah. Seorang aktivis dakwah yang cerdas hendaknya senantiasa berusaha untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Untuk ini sangat dibutuhkan langkah-langkah cerdas. Al Qur’an sebagaimana pada ayat di atas mengajarkan tiga langkah, dengannya dakwah akan menjadi efektif di mananapun disampaikan.

Berdakwah Dengan Hikmah

Hikmah menurut banyak ahli tafsir adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.Di dalam kata hikmah terkandung makna kokoh. Allah berfirman: kitaabun uhkimat aayaatuhu. Dikatakan kepada sebuah bangunan yang kokoh albinaa’ul muhkam. Bila kata hikmah digandengkan dengan dakwah maksudnya disini adalah bahwa dakwah tersebut dilakukan dengan sunguh-sungguh, tidak pernah kandas di tengah jalan. Ia terus berjalan dalam kondisi apapun. Aktivitasnya tidak pernah kenal lelah. Segala kemungkinan yang bisa diterobos demi tagaknya kebenaran ditempuhnya dengan  lapang dada.

Didalam kata hikmah juga terkandung makna bijak (wisdom). Dakwah yang bijak menurut Ustadz Sayyid Qhutub adalah memperhatikan situasi dan kondisi dari para mad’u (objek dakwah). Sejauh mana kemampuan daya serap yang mereka miliki. Jangan sampai tugas-tugas yang diberikan diluar kemampuan si mad’u. sebab, kesiapan jiwa masing-masing mad’u berbeda-beda. Diupayakan setiap satuan tugas yang diberikan sejalan dengan kapasitas intelektual dan spritualitas mereka (lihat fii dzilaalil Quran, Sayyid Qhutub vol.4, hal.2202). Perhatikan bagaimana Allah menurunkan Al Qur’an tidak sekaligus, melainkan secara bertahap dalam berbagai kondisi: pertama kali mengenai ayat-ayat keimanan. Karenanya surat-surat periode Mekkah lebih terkonsentrasi kepada masalah keimanan. Baru setelah hijrah ke Medinah, di mana iman para sahabat telah kokoh, Allah turunkan ayat-ayat tentang syari’at.

Siti A’isyah r.a pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Swt. Baru setelah para sahabat kuat, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan haram. Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan  khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609)

Dalam rangka ini pula ayat-ayat mengenal larangan minum khamer tidak langsung sekaligus, melainkan melalui empat tahap: Tahap pertama Allah memberikan isyarat bahwa barang-barang yang memabukkan itu bukan rezeki yang baik: “Dan dari buah korma dan anggur., kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki  yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya.” (Qs. An Nahl: 67). Pada tahap kedua, Allah berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah; “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu berpikir. (QS Al Baqarah: 219). Di sini Allah menerangkan bahwa khamer itu sebenarnya berbahaya besar. Kalaupun ada manfaatnya, itu hanya dari segi perdagangan saja, sementara bagi kesehatan ia sangat membahayakan.

Tahap ketiga, Allah melarang seseorang yang mabuk karena khamer untuk melakukan shalat, tetapi minum khamernya masih belum dilarang. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (Qs Annisa: 43). Di dalam ayat ini secara tidak langsung terkandung pengharaman minum khamer. Tetapi masih belum ditegaskan. Baru setelah tahapan itu senua, pada tahap keempat, Allah menegaskan bahwa khamer haram hukumnya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.(Qs Almaidah: 90-91)

Jelas sekali bahwa metodologi Al Qur’an dalam mengembalikan manusia ketitik fitrahnya sungguh sangat bijak. Demikian juga seorang aktivis dakwah yang cerdas, dia selalu berjalan sebagaimana tuntutan Al Qur’an. Maka ia tidak memaksakan kehendak dengan cara mencaci  maki dan menjelek-jelekkan orang lain yang tidak mau bergerak dalam satu fikrah (baca: visi dan misi perjuangan). Dia selalu tenang, sekalipun dicaci- maki  ataupun dijelek-jelekan. Baginya berdakwah dijalan Allah adalah kemuliaan. Tetapi dengan syarat ilmu yang ia dakwahkan harus benar, bukan asal dakwah. Sebab diantara mana hikmah – menurut Ibn Abbas- adalah ilmu tentang Al Qur’an (lihat mufradat alfadzil Qur’an, Ar Raghib Al Ashfahani, h.250). Jadi, tidak cukup jika hanyabermodalkan semangat, smentra pemikiran yang dianutnya salah. Karenanya Allah berfirman: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Yusuf; 108). Jadi tidak disebut hikmah – sekalipun ia tenang dan bijak- jika ia mengajak kepada kesesatan dan permusuhan terhadap umat Islam yang lain.

Berdakwah Dengan Mau’idzah Hasanah

Kata wa’dz lebih dekat pengertiannya kepada makna memberikan nasehat atau pelajaran. Imam Al-Asfahani menerangkan bahwa wa’dz bermakna zajrun muqatrinum bit takhawif (peringatan digabung dengan kabar penakut). Pengertian lain menjelaskan behwa wa’dz juga bermakna peringatan dengan kebaikan yang bisa menyenyuh hati. Dalam Al Qur’an banyak ayat-ayat yang menggunakan kata wa’dz untuk makna tersebut, diantaranya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs An Nahl: 90). Dalam surat Yunus 57: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dalam surat Ali Imran 138: “(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ketika di gabung dengan sifat hasanah, maka makna mau’idzah hasanah menjadi pelajaran atau nasihat yang baik. Nasihat yang menyentuh hati dan melembutkannya. Seorang aktivis dakwah yang cerdas selslu menyampaikan apa yang ada di hatinya. Tidak dibuat-buat, dan tidak pula mebuat orang-orang semakin bingung dan ketakutan. Banyak sekali contoh-contoh yang menumjukkan bahwa berdakwah dengan dari hati kehati sangat bear pengaruhnya terhadap orang lain. Sebuah ungakapan terkenal menarik untuk dikutip disini bahwa: “apa yang datang dari hati akan sampai kehati (maa jaa’a minal qalbi yashilu ilal qalbi).

Bila kita telusuri secara mendalam. Al Quran selalu menggunakan cara ini dalam menyampaikan kebenaran. Hal ini sangat jelas mengenai umat terdahulu selalu memberikan pelajaran yang sangat mahal bagi umat manusia. Allah Swt tak pernah bosan-bosan mengulang kisah kaum “Aad, Tsamud dan Fir’aun, supaya manusia yang hidup sesudahnya tidak mengkuti perbuatan. Tidak hanya itu, mengenai hari kiamat, surga dan neraka, selau Allah ulang-ulang dalam setiap surat-surat Al Qur’an . Itu tidak lain agar manusia terketuk hatinya lalu bergerak mengisi usianya dengan amal shalih. Perhatikan bagaiamana manusia dari masa kemasa, sehingga banyak banyak dari mereka yang tersadarkan lalu bertaubat dan kembali kejalan yang benar.

Silahkan baca hadits-hadits Rasulullah Saw. Anda kan mendapatkan banyak contoh menganai mau’idzah hasanah yang beliau sampaikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua hasanah. Rasulullah tidak pernah berpesan kecuali kebaikan dan kebenaran yang mengajak kepadaNya, menjauhi segala laranganNya dan senantiasa menegakkan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat dan “tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” (Qs An Najm: 3)

Berdialog Dengan Cara Yang Lebih baik

Langkah berikutnya adalah wajaadlhum bilatii hiya ahsan. Kata wajadihum (bantahlah) menunjukkan agar seorang aktivitas dakwah senantiasa meluruskan pandangan yang  salah, dan menolak setiap pendapat yang tidak sejalan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Tetapi cara menolaknya harus dengan cara yang cerdas, dalam arti lebih baik dari cara mereka billati hiya ahsan. Sebab jika tidak penolakan itu akan menjadi tidak berguna. Bahkan, tidak mustahil akan menyebabkan mereka semakin kokoh dengan kabatilan yang mereka tawarkan.

Simaklah perintah Allah Swt kepada Nabi Musa dan Harun, ketika hendak menghadapi Fir’aun. Di sini Allah Swt mengajarkan sebuah cara yang sangat baik. Allah berfirman: “ Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Qs Thaha: 42-43). Dini nampak bahwa diantara cara efektif untuk meluruskan pemahaman orang lain, adalah tidak cukup hanya dengan hujjah-hujjah yang kuat, melainkan lebih dari itu harus di topang dengan cara penyampaian yang lembut, tidak menghina dan mencerca. Bahkan tidak sedikit kebenaran yang ditolak hanya karena penyampaiannya kurang manarik. Dan beberapa banyak kebatilan yang diterima hanya karena disampaikan dengan tenang. Memukau, meyakinkan, dan menarik hati.

Diantara makna billaatii hiya ahsan adalah ia menjauhi pembicaraan yang merendahkan orang lain. Sebab baginya maksud utama bukan menjatuhkan atau mengalahkan lawan, melainkan mengantarkannya pada kebenaran. Perhatikan Rasulullah Saw ketika suatu hari datang seorang anak muda berkata “Wahai Nabi izinkan aku berzina?” (orang-orang berteriak. Tetapi Rasulullah saw minta agar anak muda tersebut mendekat, sampai duduk di sampingnya). Lalu Rasulullah bertanya, “Jika ada orang mau berzina dengan ibumu, kamu terima?” “Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikan juga orang lain. Tidak ada yang rela jika ibunya dizinai. Bagaimana jika ada orang yang mau berzina dengan saudarimu, kamu terima?” Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikian juga orang lain. Tidak ada yang rela jika saudarinya dizinai.” Lalu Rasulullah meletakkan tangannya  ke dada anak muda itu, dan berdo’a, “Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, jagalah kemaluannya.” Maka sejak itu tidak ada yang lebih dibenci oleh anak muda tersebut selain perzinaan.

Supaya para aktivis dakwah  selalu tenang dan tidak emosional dalam menghadapi berbagai tantangan, Allah Swt menutup ayat di atas (Qs An Nahl: 125) dengan penegasan : Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Maksudnya, Allah sebenarnya mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk, adapun berdialog dengan mereka itu hanyalah sebuah usaha manusiawi, siapa tahu tersebut berirama dengan ketentuan-Nya. Toh kalaupun ternyata masih belum tercapai target yang diinginkan, segeralah kembali kepada ayat: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Qs Al Qashash: 56). Dalam surat Al Baqarah ayat 272: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.”

DR. Amir Faishol Fath

(Sumber : http://www.pkpu.or.id)

Posted in: Kebun Hikmah