Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II

Posted on 15 Mei 2010


Warsawa, Secara kasat mata, Islam tidak menonjol di Polandia. Maklum, negeri ini berpenduduk mayoritas Katolik.  Umat Nasrani di negeri asal mendiang Paus Johannes Paulus II itu mencapai 95 persen dari hampir 40 juta penduduk.  Namun Islam telah berada di Polandia sejak 600 tahun silam dan memiliki tempat dalam sejarah panjang di negeri yang pernah hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu. Jumlah umat Islam di Polandia berkisar antara 25-30 ribu, umumnya penganut aliran Sunni, di antaranya sekitar 3.000 – 5.000 berdarah Tartar.

Seiring berkembangnya ekonomi, banyak kaum muda yang dinamis pindah dan menetap di wilayah utara, terutama di Gdansk. Kaum tua Tartar kebanyakan bertahan di permukiman asli mereka di kota-kota kecil di sekitar Byalistok.

Tidak banyak terdapat masjid di Polandia, cuma dalam bilangan jari. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah penganut Islam dari Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan, rumah-rumah ibadah Muslim dalam bentuk mushalla juga berkembang pesat.

Di kota-kota besar seperti Krakow, Wroclaw, dan Gdansk yang memiliki masjid, tempat ibadah itu memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan Informasi Islam.

Gdansk menjadi tempat yang khusus karena memiliki menara, meskipun azan tidak dikumandangkan. Namun, dalam peta Islam kota kecil Kryszyniany dan Bohoniki, di dekat Byalistok, memiliki tempat khusus bersejarah, karena di tempat itu terdapat dua mesjid tua yang kurang lebih sama tuanya dengan yang terdapat di Lithuania maupun Belarus.

Di Wroclaw, menurut Imam Ali Abi Issa yang menjadi Ketua sekaligus imam pada Pusat Kebudayaan Islam, suasana Ramadhan diisi dengan shalat tarawih, pengajian, dan shalat Ied bersama umat Islam setempat.

Imam Ali sangat aktif menggerakkan dialog antar-agama, termasuk antara Islam dan Yahudi berkembang baik. Mayoritas kaum Muslim berasal dari negara-negara Arab.

TKI yang berjumlah sekitar 15 orang juga sering hadir beribadah di mesjid. Dewan Kota Wroclaw sangat mendukung keberagaman dan toleransi yang pada gilirannya akan membentuk citra kota Wroclaw sebagai kota budaya internasional.

Maklum, Wroclaw ingin mengimbangi kedudukan unggul Krakow sebagai kota budaya yang banyak menarik wisata dan investasi, dan keduanya terletak di bagian selatan Polandia.

Iedul Fitri 1429 H merupakan kesempatan ketiga berlebaran bagi penulis sekeluarga selaku Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa. Lebaran yang jatuh hari Rabu, 1 Oktober 2008, berdasarkan pengumuman dari Masjid Warsawa. Shalat Ied dimulai jam 0900 pagi, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani dan telah bermukim di Polandia selama 600 tahun.

Masjid Warsawa yang terletak di daerah pemukiman elit di bilangan Wilanow di Jalan Wiertnicza dan umat Islam bolehlah berbangga. Di Polandia tak gampang menemukan masjid. Lebih dari 95 persen rakyat Polandia beragama Katolik, sisanya Protestan, Ortodoks, Yahudi dan Muslim.

Kehidupan beragama pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen, dan tidak dianjurkan. Pada era keterbukaan, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin berkembang.

Idul Fitri di Byalystok

Ketika Mufti Tomasz Miskiewicz, Ketua Dewan Persatuan Agama Islam Polandia menyampaikan undangan beridul fitri di Byalystok, wilayah timur Polandia, penulis langsung menyatakan akan datang, bersama isteri.

Tidak saja karena berteman baik dengan Mufti Polandia itu, tetapi lebih khusus lagi karena Byalistok merupakan kota bersejarah, di mana selama 600 tahun umat Islam bermukim di kota itu.

Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan dari prajurit Tartar yang gagah-berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410.

Nenek moyang mereka turut berperang membantu Jan Sobieski, panglima perang yang kemudian menjadi raja Polandia, melawan pasukan Ottoman dalam mempertahankan kerajaan Austro-Hongaria sebagai bastion kerajaan Kristen, pada pertempuran Wina pada tahun 1683, sehingga Sobieski diberi gelar oleh Paus dan pemimpin Eropa sebagai “the Savior of Vienna and Western European civilization”.

Itulah sebabnya, para pemimpin perang Tartar diberikan gelar kebangsawanan dan memperoleh tempat khusus di hati rakyat Polandia. Panglima-panglima perang dan perajurit Tartar juga dengan gagah berani membela Polandia, tanah air baru mereka, dalam pertempuran menghadapi serbuan Jerman dan Uni Soviet menjelang Perang Dunia II pada tahun 1939.

Mufti Tomasz selalu diundang oleh Presiden Polandia pada saat menerima tamu-tamu negara Muslim, dalam kunjungan ke Polandia. Beliau juga rajin mengunjungi acara-acara resepsi yang diselenggarakan oleh KBRI Warsawa. Mufti yang juga keturunan Tartar itu berusia 30 tahun, cukup berwibawa, lulusan Fakultas Hukum di Arab Saudi dan sangat aktif dalam memajukan masyarakat Muslim di Polandia. Dia membangun tempat wisata agro di Byalistok, tempat tinggalnya.

Disambut meriah

Setelah menempuh perjalanan dari Warsawa sejauh 200 km diiringi hujan sepanjang hari pada hari Sabtu (4/9), kami tiba di Byalistok berkumpul dengan sekitar 500 masyarakat Muslim Tartar, tua-muda, termasuk anak-anak, yang datang dari berbagai penjuru Polandia, dan bahkan dari luar negeri. Mereka memadati gedung Pusat Kebudayaan Bialystok, tempat acara berlangsung.

Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadan), mungkin bayram diambil dari bahasa Turki yang berarti perayaan. Orang asing yang hadir barangkali kami dari Indonesia dan Dubes Azerbaijan, yang datang menyumbang konser lagu-lagu Islam oleh grup kesenian dari negerinya.

Etnis Tartar, sebagaimana saudara-saudara mereka dari Asia Tengah dan Kaukasus, sangat ramah dan bersahabat. Semua hadir mengenakan pakaian terbaik, berwarna-warni. Sebagian ibu-ibu dan wanita muda berkerudung.

Demikian pula kaum pria Tartar. Kami bertukar salam. Tidak tertinggal kesan, bahwa kakek-moyang mereka adalah pasukan perang berkuda bersenjata panah dan pedang yang gagah berani. Sayang, cuma dua duta besar dari negara-negara OKI yang hadir, Indonesia dan Azerbaijan.

Delegasi Indonesia dan Azerbaijan diberi kehormatan untuk duduk di barisan depan, dan diperkenalkan kepada hadirin sambil mempersembahkan seperangkat kembang yang indah dan diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan Indonesia, negeri yang jauh dan indah di mana sekitar 220 juta umat Islam di sana juga sedang merayakan Idul Fitri.

Penulis katakan, meskipun berjumlah kecil di Polandia namun jangan berkecil hati, karena umat Islam Indonesia adalah saudara-saudara kalian. Mereka menunggu kedatangan saudara-saudara Muslim dari Polandia. Sangat ramah, dan mereka memberikan tepukan meriah. Beberapa kaum ibu berbincang-bincang dengan Ny. Pohan yang senantiasa berjilbab untuk bertukar informasi mengenai tradisi Idul Fitri di berbagai suku-bangsa di Indonesia.

Mereka terkesan dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dan tradisi Idul Fitri yang dimulai dengan berziarah ke makam leluhur, makan pagi dan berdoa bersama keluarga sebelum shalat Ied, dan saling-berkunjung dan memaafkan, termasuk dengan teman dan tetangga. Suasana Ied berlangsung selama satu bulan penuh.

Di kota lain

Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat ini juga bermanfaat untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra toleransi beragama yang tinggi di Polandia.

Shalat Ied di Warsawa, misalnya, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia.

Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia. Imam mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat fitrah dan bersedekah.

Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam.

Masjid Warsawa itu terdiri dari dua lantai: wanita beribadah di lantai atas sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta makanan kecil halal.

Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam.

Sudah lama masyarakat Muslim di Warsawa, berkeinginan untuk memiliki Masjid Raya, khususnya sejak zaman keterbukaan setelah runtuhnya Tembok Berlin, namun belum terwujud. Apalagi, di beberapa negara Eropa Barat tidak mudah urusan administratif untuk membuat rumah ibadah Islam, meskipun di berbagai kota besar Eropa terdapat ratusan ribu jamaah Muslim.

Ibadah dijalankan di rumah-rumah bahkan di bekas-bekas gudang. Masjid Warsawa itu baru dalam beberapa tahun terakhir berfungsi, karena sebelumnya merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat.

Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi.

Menurut Emir Poplawski, imam pada mesjid di Warsawa, Islam tidak bermasalah dan bahkan disambut baik dengan hak dan kewajiban sosial yang sama dengan warga lainnya. Bahkan, karena peran yang bersejarah, Konstitusi Mei 1791 mengakui kedudukan etnis minoritas Tartar yang kebanyakan Muslim dengan posisi menjadi anggota parlemen (Sejm). (*) oleh Hazarin Pohan, Dubes RI untuk Polandia,  Copyright © 2009 – Antara

(Sumber : http://www.antara.co.id)

Posted in: Dunia Islam